Walau Berkutu, Beras Tetap Ditunggu

Rabu, 26 Maret 2008

Judul tulisan ini diambil dari penggalan kata-kata yang terucap dari bibir warga miskin di RT 1 RW 3 Kelurahan Karangsari, Kota Tangerang. Mereka kini menanti raskin yang tak kunjung tiba. Dengan raskin, mereka merasa terbantu.

Warga Karangsari hanya sebagian kecil dari 31.254 keluarga miskin di Kota Tangerang yang berhak menerima beras jatah untuk rakyat miskin atau raskin. Kondisi warga miskin di 12 kecamatan lain di Kota Tangerang tak jauh berbeda dengan mereka.

Tentu saja tak ada orang yang mau makan beras berbau tak sedap, apalagi ”berhiasan” kutu. Namun, buat warga miskin yang sebagian penderita penyakit kusta dan keluarganya di Kota Tangerang, beras tak layak konsumsi itu tetap mereka tunggu untuk makan sehari-hari.

Kondisi raskin kadang berbau dan mengandung kutu, tetapi warga miskin tetap memburunya karena harganya terjangkau oleh pendapatan mereka.

Seharusnya harga raskin di pasar umum Rp 4.275 per kilogram, tetapi pemerintah memberikan subsidi Rp 3.275 per kilogram sehingga warga miskin bisa menebus dengan harga Rp 1.000 per kilogram.

Tahun 2008 pemerintah menaikkan harga tebus raskin menjadi Rp 1.600 per kilogram. Toh, harga ini masih jauh lebih murah daripada harga beras termurah di pasar, Rp 4.000 per kilogram.

”Masaknya dicampur dengan beras agak bagus. Perbandingannya seliter raskin dicampur seliter beras bagus,” ujar Samnah (30), warga Karangsari, pada Selasa (25/3).

Saat kami berbincang tentang raskin dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang sangat memberatkan masyarakat, warga lain bergabung, berdiri di depan pintu rumah pasangan Samnah-Zaenal (35) dan Utik-Maruf (40).

Para warga tinggal di bangunan bekas bangsal perawatan penderita kusta sejak tahun 1980-an. Pimpinan Rumah Sakit Sitanala Tangerang mengizinkan mereka tinggal di sana asal mau membuat sumur dan memasang listrik sendiri, tetapi sewaktu-waktu mereka bisa terusir.

Bangunan lama mirip deretan rumah kopel itu terdapat dalam kompleks RS Sitanala. Penghuni kawasan tersebut penderita kusta yang dulu dirawat di sana lalu kawin-mawin dengan sesama penderita.

Sebagian besar di antara mereka cacat fisik di bagian tangan dan kaki, bahkan di antaranya ada yang kakinya buntung seperti yang terjadi pada Maruf.

Rendahnya pendidikan karena umumnya sejak anak-anak mereka sudah dirawat di RS Sitanala, keterbatasan keterampilan, dan ketiadaan modal mengakibatkan mereka hanya bisa bekerja di sektor informal.

Pengayuh becak, penyapu jalan, tukang taman milik Pemerintah Kota Tangerang, calo angkot, atau pemulung menjadi pilihan pekerjaan penderita kusta.

Tentu saja pendapatan mereka hanya sekitar Rp 300.000 per bulan dan beberapa orang seperti Utik yang menjadi penyapu jalan bergaji Rp 930.000 per bulan jika setiap hari bekerja.

Untuk menambah pendapatan, para istri menjadi tukang cuci di rumah karyawan RS Sitanala dengan upah Rp 150.000 per bulan. Ada juga yang berdagang kecil-kecilan. Sekalipun penghasilan mereka digabung, sebagian besar warga tetap tak mampu mencukupi kebutuhan makan dengan menu empat sehat.

”Kami hidup dengan gali lubang tutup lubang,” ujar Zaenal (35) yang bekerja sebagai tukang sapu di Yayasan Marfati, Tangerang, dengan gaji Rp 300.000 per bulan.

Siang itu menu makan siang Zaenal adalah nasi, tahu goreng, dan teri berbumbu bawang putih. ”Tak ada sayur dan sambal karena harga bayam yang biasanya Rp 500 seikat sekarang Rp 1.500. Cabe lima biji Rp 1.000,” timpal Samnah.

Samnah agak beruntung. Sekalipun tak mampu membeli minyak sayur, ia masih bisa menggoreng tahu. Itu karena suaminya sering membawa pulang minyak bekas pakai yang ia minta dari dapur rumah jompo milik Yayasan Marfati.

Perbincangan menjadi seru karena warga yang bergabung bertambah. Tanpa malu-malu kaum lelaki dan perempuan membuka rahasia kehidupan sehari-hari yang serba sulit.

Gaya hidup gali lubang tutup lubang menjadi hal biasa dalam kehidupan mereka. ”Di sini hampir tak ada orang bebas utang,” aku Ati.

Perempuan bertubuh subur ini mencontohkan dirinya sendiri yang punya empat anak. Gaji Fauzi, suaminya yang menjadi tukang taman, hanya sekitar Rp 500.000 per bulan. Sebelum harga-harga membubung tinggi, Ati cukup mengeluarkan uang Rp 10.000 untuk belanja sayur, tahu-tempe, ikan asin, minyak sayur, dan minyak tanah.

Dalam kondisi seperti itu, warga miskin di Karangsari sangat menanti raskin yang harganya jauh lebih murah daripada harga beras yang biasa mereka beli. Warga berharap Wali Kota Tangerang Wahidin Halim dan aparatnya segera kembali menyalurkan raskin kepada orang miskin seperti mereka.

Sumber : Soelastri Soekirno

Tinggalkan Balasan