Hidup Memadai di Masa Pensiun

–> Rabu, 26 Maret 2008

Kerja keras sewaktu muda, bersenang-senang di hari tua, lalu mati masuk surga. Itulah anekdot yang sering kita dengar dalam perbincangan masyarakat kelas menengah. Tentu setiap orang mendambakan siklus hidup yang ideal tersebut. Bukan isapan jempol asalkan ada tekad dan paling penting memang mempersiapkannya sejak dini.

Perusahaan finansial global menyelenggarakan sebuah survei bertitel AXA Retirement Scope 2008 yang digelar di 26 negara dan 5 benua bertujuan untuk mengetahui persepsi dan perilaku masyarakat terhadap pensiun.

Khusus di Indonesia, hasil survei itu cukup mencengangkan. Sebanyak 65 persen pensiunan Indonesia ternyata tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Nah lho, bagaimana bisa bersenang-senang!

Jika pensiunan tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tentu berbagai faktor penyebab. Tergantung gaya hidup pensiun kelak. Makin ”mewah” gaya hidupnya tentu membutuhkan biaya besar pula.

Akan tetapi, bisa juga kebutuhan itu bukan semata bersifat konsumtif, lebih pada persoalan kesehatan. Seiring dengan bertambahnya usia, biasanya kesehatan seseorang pun memang semakin menurun. Oleh karena itu, biaya pengobatan atau perawatan kesehatan menjadi semakin besar, sementara penghasilan jelas sudah jauh berkurang ketimbang pada saat masih bekerja aktif.

Karena itulah, mempersiapkan diri memasuki pensiun, baik secara mental maupun finansial, harus sedini mungkin. Secara mental, harus disadari bahwa penghasilan jauh menurun. ”Karena itulah, saat masih aktif bekerja seseorang harus aktif dan disiplin menyisihkan sebagian penghasilannya untuk persiapan menjemput datangnya masa pensiun,” ujar seorang manajer investasi.

Memang banyak orang yang mengatakan betapa sulitnya menabung. ”Bagaimana mau menyisihkan kalau penghasilan hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari,” ujar Syafei, seorang pegawai swasta.

Di situlah persoalannya. Hidup memang pilihan. Ada buku yang sangat provokatif berjudul Save or Sorry. Artinya, kira-kira ”menabung atau menyesal di kemudian hari”.

Survei AXA itu mengungkapkan, sebagian besar masyarakat Indonesia memang belum sadar akan pentingnya mempersiapkan pensiun dengan baik. Sebanyak 60 persen persiapan pensiun yang dilakukan masyarakat Indonesia hanya berdasarkan peraturan pemerintah, yaitu melalui Jamsostek dengan program Jaminan Hari Tua.

Padahal, seiring perkembangan ekonomi yang tidak menentu, berapa besar dana yang kita butuhkan untuk hidup layak di masa pensiun tentu sukar juga ditebak sejak sekarang. Namun, dengan merencanakan berapa besar dana yang hendak kita gunakan dalam menjalani masa pensiun itu dengan berbagai problematik di usia senja, menjadi sangat penting diatur sejak dini. Makin awal melakukan persiapan pensiun tentu semakin ringan biaya yang harus dialokasikan. Untuk itu, berkonsultasi dengan ahli keuangan, menyerahkan pengelolaan keuangan persiapan pensiun kepada manajer investasi atau pengelola dana pensiun merupakan tindakan yang bijak.

”Dengan semakin mengerti perilaku dan persepsi masyarakat Indonesia, kami pun dapat menyediakan solusi yang terbaik bagi nasabah sehingga membuat nasabah semakin percaya diri dalam melakukan persiapan pensiun dan mewujudkan impiannya saat masa pensiun tiba,” ujar Randy Lianggara, Country CEO AXA Indonesia.

Lebih cepat

Rata-rata pekerja Indonesia berharap dapat pensiun pada usia 54 tahun dan rata-rata pensiunan Indonesia berharap dapat pensiun di usia 57 tahun. Dibandingkan dengan negara lain, rata-rata usia pensiun yang diharapkan pensiunan Indonesia hampir sama dengan di negara-negara Asia Tenggara. Sementara itu, rata-rata usia pensiun yang diharapkan pekerja Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan negara lain.

Dengan kata lain, pekerja Indonesia berharap untuk cepat pensiun. Sebanyak 53 persen pekerja Indonesia telah mempersiapkan pensiun mereka pada usia 39 tahun. Ini cukup terlambat dibandingkan negara Asia lain. Singapura, misalnya, umumnya pekerja telah mempersiapkan pensiun pada usia 34 tahun. Di Amerika Serikat pekerjanya mempersiapkan pensiun pada usia 30 tahun.

Dari 26 negara yang disurvei, Filipina merupakan negara yang pekerjanya paling muda dalam melakukan persiapan pensiun, yaitu mulai usia 28 tahun. Pensiunan di Indonesia rata-rata mempersiapkan pensiunnya pada usia 47 tahun.

”Dengan melihat perbedaan usia persiapan pensiun antara pekerja dan pensiunan Indonesia, kami cukup lega karena setidaknya kesadaran untuk melakukan persiapan pensiun yang lebih baik dari pekerja Indonesia saat ini sudah meningkat cukup tinggi dibandingkan pendahulunya. Pertanyaannya, bagaimana mereka mempersiapkannya? Tepatkah persiapan yang mereka lakukan?” ujar Randy.

Secara umum pensiun dipersepsikan memiliki kualitas hidup yang lebih baik atau sama dengan saat bekerja. Sebanyak 38 persen pekerja Indonesia merasa optimistis memiliki kualitas hidup yang lebih baik (peringkat ke-4 dari 26 negara), 30 persen pekerja optimistis memiliki kualitas hidup sama, dan hanya 32 persen pekerja merasa akan mengalami penurunan kualitas hidup.

Sebaliknya, hanya 23 persen pensiunan Indonesia merasa optimis kualitas kehidupan mereka lebih baik. Angka ini di bawah rata-rata Asia Tenggara.

Sumber pendapatan

Hasil AXA Retirement Scope 2008 menunjukkan, hanya 21 persen dari pekerja Indonesia yang mengetahui berapa jumlah yang mereka butuhkan saat pensiun dan fakta menunjukkan bahwa 65 persen pensiunan Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Tiga sumber utama pendapatan pada masa pensiun pekerja Indonesia adalah kontribusi sesuai peraturan pemerintah, yaitu JHT Jamsostek, tabungan pensiun sendiri, dan kontribusi perusahaan tempat bekerja.

Bagi pensiunan Indonesia, tiga sumber utama pendapatan pada masa pensiun adalah kontribusi sesuai peraturan pemerintah, tabungan pensiun sendiri, dan investasi properti.

Rata-rata pekerja Indonesia menabung Rp 598.000 setiap bulan untuk persiapan pensiun. Adapun bagi pensiunan rata-rata menabung Rp 460.000 setiap bulan untuk persiapan pensiun. Nilai tabungan ini lebih tinggi dibandingkan dengan India dan Filipina, tetapi termasuk rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain.

Untuk produk finansial persiapan pensiun, hanya 9 persen dari pekerja Indonesia yang menyukai instrumen dengan tingkat pengembalian besar dengan risiko, 80 persen menyukai instrumen dengan tingkat pengembalian kecil tanpa risiko. Sedangkan untuk pensiunan 8 persen menyukai instrumen dengan tingkat pengembalian besar dengan risiko dan 71 persen menyukai instrumen dengan tingkat pengembalian kecil tanpa risiko.

Menanggapi 60 persen pekerja Indonesia mengandalkan persiapan pensiun sesuai dengan peraturan pemerintah dan 65 persen pensiunan Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari, Randy mengatakan, masyarakat Indonesia harus diedukasi untuk menyadari pentingnya persiapan pensiun untuk memastikan masyarakat Indonesia dapat pensiun dengan standar hidup yang sama, bahkan jauh lebih baik dibandingkan saat aktif bekerja.

Banyak orang Indonesia yang masih memikirkan kemungkinan untuk tetap bekerja pada masa pensiun. Itu bukan hanya dominasi orang Indonesia sebab peringkat pertama dan kedua diduduki orang Filipina dan Thailand. Umumnya pekerja Indonesia berencana untuk tetap bekerja, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari pensiunan yang tetap bekerja. Hal ini tentu berdampak terhadap penghasilan dan kualitas hidup saat pensiun.

Untuk kebutuhan sehari-hari, umumnya pekerja Indonesia beranggapan bahwa anak mempunyai kewajiban untuk membantu orangtuanya secara finansial. Lebih kecil jumlah pensiunan menyetujui hal tersebut.

Dengan pandangan bahwa anak berkewajiban membantu secara finansial membuat pekerja kurang memiliki persiapan pensiun yang baik. Pandangan ini tidak terlepas dari budaya timur Indonesia yang mengutamakan kekeluargaan. Namun, sebagai orangtua seiring dengan kesadaran finansial yang semakin tinggi, pandangan seperti ini perlu ditinggalkan karena akan memberikan beban finansial tambahan kepada anak, yang berpengaruh terhadap kualitas hidup mereka.

”Pensiun seharusnya merupakan persiapan pribadi setiap orangtua.” ujar Randy.

Pandangan positif

Berdasarkan AXA Retirement Scope 2008, masyarakat Indonesia berpandangan bahwa pensiun adalah masa tidak melakukan apa-apa, menikmati hidup, menjaga keluarga dan cucu, serta melakukan sesuatu yang disukai.

Sebanyak 71 persen pekerja Indonesia berpandangan positif terhadap pensiun, hampir sama dengan pensiunan Indonesia. Hanya sedikit pekerja Indonesia menilai negatif terhadap pensiun. Pensiun dipandang sebagai kematian, tua, sakit, ketergantungan, miskin, dan tidak berguna. Pensiunan Indonesia juga mempunyai pandangan yang sama.

Survei itu juga mengungkap sisi gender. Di seluruh negara di dunia, pria dipersepsikan akan lebih menderita saat pensiun karena mereka akan merasa bosan. Adapun wanita akan lebih siap secara psikologis.

Di Indonesia 61 persen pekerja pria merasa akan menderita kebosanan, tetapi secara finansial mereka melakukan persiapan lebih baik dibandingkan wanita. Pekerja wanita beranggapan pensiun merupakan saatnya mengalami problem rumah tangga dan saatnya aktif bersosialisasi.

Sumber : Andi Suruji

Satu Tanggapan ke “Hidup Memadai di Masa Pensiun”

  1. arman batubara Berkata:

    SAYA SANGAT TERBANTU DENGAN ARTIKEL INI DAN SAYA SANGAT MENGINGINKAN LAGI POSTINGAN ANDA .

Tinggalkan Balasan